Keluarga adalah
lingkungan pertama dan utama dalam membentuk kepribadian seorang anak. Seorang
anak akan tumbuh menjadi seorang remaja yang mandiri baik dalam hal emosi,
berbuat, maupun berprinsip yang hal tersebut sangat dipengaruhi oleh gaya
pengasuhan orangtua dalam lingkungan keluarganya. Sehubungan dengan gaya
pengasuhan orangtua dan hubungannya dengan kemandirian para remaja, hal yang
terpenting diketahui oleh para orangtua bahwa seorang remaja juga sangat
membutuhkan dukungan daripada sekedar pengasuhan, seorang remaja juga
membutuhkan bimbingan daripada sekedar perlindungan, seorang remaja juga
membutuhkan pengarahan daripada sekedar sosialisasi, dan seorang remaja dalam
kehidupannya sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang (kebutuhan psikis) daripada
sekedar pemenuhan kebutuhan fisik/materi semata. Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan
tersebut sangat terkait pula dengan gaya pengasuhan yang diperankan oleh para
orangtuanya, yang pada akhirnya juga sangat berpengaruh pada tumbuhnya
kemandirian pada diri seorang anak ketika ia tumbuh menjadi seorang yang dewasa
kelak.
A. Pendahuluan
Semua orangtua
tentu saja mengharapkan anaknya dapat tumbuh menjadi manusia yang cerdas,
bahagia, dan memiliki kepribadian yang baik. Namun harapan tersebut tidaklah
semudah membalikkan telapak tangan. Dituntut kesabaran, keuletan dan
kesungguhan dari para orangtua agar harapan tersebut dapat terwujud. Salah satu
yang perlu diperhatikan oleh orangtua adalah menerapkan gaya pengasuhan yang
tepat agar anaknya dapat berkembang menjadi manusia dewasa seperti yang
diharapkan.
Wahana yang
pertama dan utama bagi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak adalah
keluarga. Dalam lingkungan keluargalah anak diasuh dan dibesarkan sehingga
mengalami suatu proses untuk “menjadi” seorang manusia yang dewasa.
Fungsi keluarga
dalam proses memberi “corak dan warna” seorang anak sangat vital. Fungsi
tersebut disamping sangat vital juga berubah dan mengalami perkembangan seiring
dengan bertumbuh dan berkembangnya usia seorang anak Misalnya pada masa bayi
dan kanak-kanak, fungsi dan tanggung jawab utama sebuah keluarga adalah
mengasuh, merawat, melindungi, membesarkan, dan melakukan proses sosialisasi.
Namun seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan seorang anak, misalnya ketika
ia menjadi seorang remaja, maka fungsi utama keluarga akan bergeser dan
bertambah pula. Seorang remaja lebih membutuhkan dukungan (support) dari
sekedar pengasuhan (nurturance), ia lebih membutuhkan bimbingan (guidance) dari
sekedar perlindungan (protection), dan seorang remaja lebih membutuhkan
pengarahan (direction) dari sekedar sosialisasi (socialization) (Steinberg,
1991)
Berikut ini
akan diuraikan bagaimana dan seperti apa kecenderungan seorang anak akan tumbuh
menjadi seorang remaja yang mandiri jika dikaitkan dengan gaya pengasuhan
(parenting style) dari orangtua.
B. Kemandirian
Remaja
Dalam Bahasa
Indonesia, kata “mandiri” diartikan sebagai suatu keadaan dapat berdiri
sendiri, tidak bergantung kepada orang lain. Kata “kemandirian” adalah kata
benda dari kata mandiri yang diartikan sebagai hal atau keadaan dapat berdiri
sendiri tanpa bergantung kepada orang lain. Kemandirian menunjuk pada adanya
kepercayaan akan kemampuan diri sendiri untuk menyelesaikan persoalan-persoalan
tanpa bantuan orang lain, tanpa dikontrol oleh orang lain, dapat melakukan
kegiatan dan menyelesaikan sendiri masalah-masalah yang dihadapinya.
Selanjutnya, dengan mengutip pendapat Johnson dan Medinnus, (Widjaja, 1986)
menjelaskan bahwa kemandirian merupakan salah satu ciri kematangan yang
memungkinkan seorang anak berfungsi otonom, berusaha ke arah terwujudnya
prestasi pribadi dan tercapainya suatu tujuan.
Dalam istilah
psikologi, kata mandiri dipadankan dengan kata otonomi (autonomy). Senada
dengan pendapat di atas, secara singkat Chaplin (1997) dalam Kamus Psikologi
memberikan arti kata autonomy sebagai keadaan pengaturan diri, atau kebebasan
individu manusia untuk memilih, menguasai dan menentukan dirinya sendiri.
Dari beberapa
pengertian kemandirian di atas, diambil suatu pengertian bahwa secara
substansial kata mandiri/kemandirian dan kata otonomi (autonomy) mempunyai kata
kunci yang sama yakni terlepas dari ketergantungan pada orang lain, mempunyai
tanggung jawab pribadi serta mampu melaksanakan segala sesuatunya oleh dirinya
sendiri.
Fasick dalam
Rice (1996: 45) mengatakan: “one goal of every adolescent is to be accepted as
an autonomous adult”. Dengan demikian, maka kemandirian merupakan salah satu
aspek yang gigih diperjuangkan dan diidamkan oleh setiap para remaja. Tuntutan
adanya separasi (separation) atau self-detachment dari para remaja terhadap
orangtua atau keluarganya semakin tinggi, hal ini sejalan dengan memuncaknya
proses perubahan fisik, kognisi, afeksi, sosial, moral dan mulai matangnya
pribadi para remaja saat memasuki masa dewasa awal, dan berkembangnya kebutuhan
akan kemandirian (autonomy) dan pengaturan diri sendiri (self directed) dari
para remaja.
Steinberg
(1993), menyatakan bahwa secara psikososial kemandirian tersusun dari tiga
bagian pokok yaitu: 1). Emotional autonomy (kemandirian emosi), 2). Behavioral
autonomy (kemandirian untuk bertindak atau berbuat), dan 3). Value autonomy
(kemandirian nilai).
- Emotional autonomy (kemandirian emosi), yaitu aspek kemandirian yang berhubungan dengan perubahan kedekatan/keterikatan hubungan emosional individu, terutama dengan orangtua.
Ketika seorang
anak telah memasuki usia remaja, maka hubungan antara anak dengan orangtuanya
akan terasa berubah. Seiring dengan timbulnya kemandirian seorang anak,
terutama dalam hal mengurus dirinya sendiri maka waktu yang diluangkan untuk
kebersamaan orangtua terhadap anaknya akan semakin berkurang dengan sangat
tajam.
Interaksi
sosial pada seorang anak remaja yang awalnya lebih banyak terjadi di dalam
lingkungan keluarga akan bergerak menuju ke lingkungan di luar keluarganya.
Jika selama ini seorang anak remaja ketika masih dalam masa kanak-kanak
interaksi sosialnya terbatas hanya dalam lingkungan keluarga, maka pada masa
remaja hal ini mulai berkurang seiring dengan bertambah luasnya lingkungan
sosial atau pertemanan remaja yang didapatnya. Keterikatan seorang remaja
dengan orangtuanya akan semakin bekurang, Ia akan berubah menjadi dirinya
sendiri dan berusaha mencari model yang sesuai dengan keinginannya. Ketergantungan
emosional seorang remaja terhadap orangtua atau keluarganya akan semakin
berkurang, meskipun ikatan emosional sebagai seorang anak terhadap orangtuanya
tidak serta merta dan tidak mungkin dapat dipatahkan secara sempurna (Rice,
1996).
Steinberg
(1993) menyebutkan bahwa kemandirian emosi seorang remaja dapat dilihat dari
beberapa indikator seperti diantaranya sebagai berikut:
- Tidak serta merta lari atau mengadu kepada orangtuanya ketika mereka dirundung kesedihan, kekecewaan, kekhawatiran, atau ketika ia sedang membutuhkan bantuan.
- Tidak lagi memandang orangtuanya sebagai orang yang mengetahui segala-galanya atau menguasai segala-galanya.
- Seringkali mempunyai energi emosional yang besar dalam rangka menyelesaikan hubungan-hubungan di luar keluarganya, dan dalam kenyataannya mereka merasa lebih dekat dengan teman-temannya daripada orangtuanya sendiri.Mampu memandang dan berinteraksi dengan orangtuanya sebagai orang pada umumnya, artinya bukan semata-mata sebagai orangtuanya.
- Mampu memandang dan berinteraksi dengan orangtuanya sebagai orang pada umumnya, artinya bukan semata-mata sebagai orangtuanya.
- Behavioral autonomy (kemandirian untuk bertindak atau berbuat), yaitu aspek kemampuan untuk membuat keputusan secara bebas dan melakukan tindak lanjut.
Mandiri dalam
tingkah laku berarti bebas untuk bertindak/berbuat sendiri tanpa terlalu
bergantung pada bimbingan/pertolongan dari orang lain. Kemandirian berbuat,
khususnya kemampuan mandiri secara fisik sesungguhnya sudah dimulai sejak usia
anak (Widjaja, 1986), kemudian akan meningkat dengan sangat tajam sepanjang
usia remaja. Peningkatan ini bahkan lebih dramatis daripada peningkatan
kemandirian emosional.
Kemandirian
untuk berbuat sesungguhnya telah dimulai sejak dari adanya sebuah kewewenang
yang diberikan oleh orangtua terhadap anaknya untuk berbuat atau melakukan
sesuatu dengan sendiri. Secara psikologis, seorang remaja ingin mendapatkan
kemandirian dalam hal bertingkah laku secara perlahan-lahan.
Pemberian
kepercayaan sebaiknya diberikan secara bertahap atau sedikit demi sedikit
terhadap seorang anak, hal ini akan memberikan situasi yang kondusif terhadap
peningkatan kemandirian tingkah lakunya. Jika pemberian kewenangan atau
kepercayaan diberikan secara berlebihan, maka kemungkinan justru akan dianggap
oleh anak sebagai sebuah penolakan. Menurut Rice (1996), seorang anak ingin
memikul tangungjawab sendiri, mempunyai kebebasan untuk berpendapat, ingin
menggunakan kemampuannya sendiri dalam menyelesaikan masalah, namun pada
hakekatnya ia menginginkan perhatian orangtua dan tidak menghendaki adanya
kebebasan yang liberal atau kebebasan yang penuh.
Hill dan
Holmbeck (dalam Steinberg (1993) mengemukakan beberapa indikator dari munculnya
kemandirian berbuat pada seorang remaja diantaranya adalah sebagai berikut:
- Kemampuan untuk membuat keputusan sendiri dan mengetahui dengan pasti kapan seharusnya meminta/mempertimbangkan nasehat orang lain.
- Mampu mempertimbangkan bagian-bagian alternatif dari tindakan yang dilakukan berdasarkan penilaian diri sendiri dan saran-saran orang lain,
- Mencapai suatu keputusan yang bebas tentang bagaimana seharusnya bertindak/melaksanakan keputusan dengan penuh percaya diri.
- Value autonomy (kemandirian nilai), yaitu aspek kebebasan untuk memaknai seperangkat prinsip tentang benar dan salah, hak dan kewajiban, apa yang penting dan apa yang kurang atau tidak penting.
Kemandirian
nilai sesungguhnya menunjuk kepada suatu pengertian mengenai kemampuan
seseorang dalam mengambil sebuah keputusan dan menetapkan sebuah pilihan dengan
berpegang atas dasar prinsip-prinsip individual yang dimilikinya daripada
mengambil prinsip-prinsip dari orang lain.
Jika
dibandingkan dengan dua kemandirian sebelumnya yakni kemandirian emosi dan
kemandirian untuk berbuat, maka kemandirian nilai merupakan proses yang paling
kompleks, tidak jelas bagaimana prosesnya berlangsung dan seperti apa
pencapaiannya, terjadi melalui proses internalisasi yang pada lazimnya tidak
disadari dan umumnya berkembang paling akhir, dan paling sulit dicapai secara
sempurna. Menurut Thornburg (1982), kemandirian nilai akan lebih berkembang
setelah sebagian besar keputusan yang menyangkut cita-cita, pendidikan, rencana
pekerjaan, dan perkawinan dialami dan dicapainya. Dalam banyak kasus, sistem
nilai remaja dan orangtua sedemikian sama sehingga nilai-nilai orangtua akan
dilestarikan oleh seorang remaja pada masa setelah ia dewasa.
Perkembangan
kemandirian nilai membawa perubahan-perubahan pada konsepsi-konsepsi remaja
tentang moral, politik, ideologi dan persoalan-persoalan agama. Steinberg
(1993) menyebutkan bahwa tanda-tanda perkembangan kemandirian nilai remaja
diantaranya sebagai berikut:
a. Cara remaja
dalam memikirkan segala sesuatu menjadi semakin abstrak,
b.
Keyakinan-keyakinan remaja menjadi semakin bertambah mengakar pada
prinsip-prinsip umum yang memiliki beberapa basis idiologis,
c.
Keyakinan-keyakinan remaja menjadi semakin bertambah tinggi dalam nilai-nilai
mereka sendiri, bukan hanya dalam suatu sistem nilai yang ditanamkan oleh
orangtua atau figur pemegang kekuasaan lainnya
C. Pengaruh
Gaya Pengasuhan Orangtua terhadap Kemandirian Remaja
Remaja yang
mandiri adalah remaja yang memiliki kemampuan untuk mengatur dirinya sendiri
secara bertanggung jawab meskipun tidak ada pengawasan dari orangtuanya
(Steinberg, 1993). Kondisi demikian menyebabkan remaja memiliki peran dan
sekaligus tanggung jawab baru, remaja menjadi tidak tergantung pada orang
tuanya untuk memperoleh kemandirian secara emosional. Kemandirian menuntut
kesiapan individu baik secara fisik maupun emosional untuk mengatur, mengurus,
dan melakukan aktivitas atas tanggung jawabnya sendiri tanpa tergantung pada
orang lain. Namun kurangnya pengalaman remaja dalam menghadapi berbagai
masalahnya menyebabkan mereka seringkali mengalami kesulitan dalam memperoleh
kemandirian emosional.
Kemandirian
adalah salah satu aspek penting dalam kehidupan remaja dan merupakan bagian
dari tugas-tugas perkembangan yang harus dicapainya sebagai persiapan untuk
memasuki masa dewasa. Perkembangan kemandirian yang menonjol terjadi selama
masa remaja, perubahan-perubahan fisik, kognitif, dan sosial terjadi pada
periode ini (Steinberg, 1993). Oleh sebab itu, kemandirian remaja dipandang
sebagai sesuatu yang mendasar dan patut mendapat perhatian agar mereka dengan mantap
dapat memasuki dunianya yang baru, yaitu masa dewasa tanpa mengalami hambatan
yang berarti.
Ciri
perkembangan kemandirian pada remaja diantaranya dapat dilihat pada perubahan
hubungan kedekatan emosional antara remaja dengan orang tuanya. Perubahan hubungan
tersebut sebagai proses transformasi, meskipun hubungan-hubungan mengalami
perubahan, namun ikatan-ikatan perasaan (emosi) bagaimanapun tidak akan putus
(Steinberg, 1993).
Perkembangan
kemandirian remaja dapat dilihat dalam pola-pola pengertian yang dikembangkan
remaja mengenai individualisasi. Proses individualisasi dimulai dari masa bayi
dan terus berlanjut hingga memasuki masa remaja awal, meliputi perubahan yang
berangsur-angsur (gradual) dan bergerak maju (progressive) bergerak ke arah
individu yang mandiri, yang kompeten, dan terpisah dari orangtua. Proses
individualisi merupakan pelepasan ketergantungan-ketergantungan seorang anak
pada orangtuanya yang mendukung untuk menjadi lebih dewasa, lebih bertanggung
jawab, dan mandiri.
Pada masa
remaja, salah satu tugas perkembangannya adalah memperoleh kemandirian
emosional dari orangtuanya dan dari orang dewasa lainnya (Havighrust, dalam
Hurlock 1997). Perkembangan kemandiran emosional remaja dimulai dari terjadinya
perubahan hubungan emosional antara remaja dengan orangtuanya, mereka mulai
mengambil jarak dengan orangtuanya dan ingin mengatasi masalahnya sendiri.
Perubahan yang terjadi secara berangsur-angsur dalam hubungan keluarga dapat
memberikan anak lebih bebas dan lebih mendorong munculnya tanggung jawab anak,
namun tidak mengancam ikatan emosional antara orangtua dengan anaknya
(Baumrind, 1967). Perubahan demikian memberikan perkembangan kemandirian emosi
akan semakin meningkat dan mudah untuk menciptakan sebuah keluarga yang
fleksibel.
Beberapa faktor
eksternal yang mempengaruhi terbentuknya kemandirian emosi remaja dimulai dari
lingkungan keluarga melalui pola pengasuhan orangtua sehari-hari, kondisi
pekerjaan orangtua, tingkat pendidikan orangtua, dan banyaknya anggota keluarga
(Steinberg, 1993). Di samping faktor tersebut, faktor yang turut mempengaruhi
terbentuknya kemandirian emosi remaja adalah peran orangtua tunggal (single
parent) ataupun peran kedua orangtua yang keduanya berkarir dan mengharapkan
anak remajanya mandiri sepanjang hari. Demikian pula dengan urutan anak dan
jumlah saudara dalam sebuah keluarga turut mempengaruhi kemandirian emosi
remaja, misalnya; anak yang lebih tua (walau usianya masih muda) sering
diberikan tanggung jawab dan kebebasan oleh orangtuanya yang lebih besar.
Orangtua, melalui gaya pengasuhannya, dipandang
sebagai faktor penentu (determinant factor) yang mempengaruhi perkembangan
kemandirian emosi remaja. Disadari atau tidak, gaya asuh orangtua telah
meletakkan dasar-dasar perkembangan pola sikap dan tingkah laku anaknya.
Dalam sebuah
keluarga, interaksi antara orangtua dengan anaknya melibatkan pola tingkah laku
tertentu dari orangtua. Pola interaksi antara orangtua dengan anak dalam sebuah
keluarga untuk mengajar, membimbing dan mendidik dengan suatu tujuan tertentu
dinamakan gaya pengasuhan (parenting style). Gaya pengasuhan merupakan cara
yang khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam berinteraksi antara
orangtua dengan anaknya.
Penelitian
tentang gaya pengasuhan orangtua telah dilakukan sejak tahun 1930-an. Salah
seorang peneliti yang teorinya banyak digunakan hingga sekarang dan dianggap
paling populer adalah Baumrind. Baumrind (1991) mengemukakan 4 (empat) macam
gaya pengasuhan orangtua yakni: authoritarian, authoritative, permissive, dan
uninvolved/neglectful. Keempat gaya pengasuhan tersebut memiliki ciri khasnya
sendiri-sendiri dan masing memberikan efek yang berbeda terhadap tingkah laku
anak.
1. Authoritarian.
Gaya
authoritarian merupakan suatu bentuk pengasuhan orangtua yang pada umumnya
sangat ketat dan kaku ketika berinteraksi dengan anaknya. Orangtua yang bergaya
authoritarian menekankan adanya kepatuhan seorang anak terhadap peraturan yang
mereka buat tanpa banyak basa-basi, tanpa penjelasan kepada anaknya mengenai
sebab dan tujuan diberlakukannya peraturan tersebut, cenderung menghukum
anaknya yang melanggar peraturan atau menyalahi norma yang berlaku. Orangtua
yang demikian yakin bahwa cara yang keras merupakan cara yang terbaik dalam
mendidik anaknya. Orangtua demikian sulit menerima pandangan anaknya, tidak mau
memberi kesempatan kepada anaknya untuk mengatur diri mereka sendiri, serta
selalu mengharapkan anaknya untuk mematuhi semua Orangtua yang bergaya
authoritarian meyakini bahwa seorang anak akan menerima dengan baik setiap
perkataan atau setiap perintah orangtuanya, setiap anak harus melaksanakan
tingkah laku yang dipandang baik oleh orangtuanya (Baumrind, 1967). Orangtua
auhtoritarian akan mencoba mengontrol remaja dengan peraturan-peraturan yang
mereka tetapkan, selalu memberi perintah tanpa mau memberikan penjelasan.
Orangtua authoritarian selalu menuntut, kurang memberikan otonomi pada anaknya,
dan seringkali gagal memberikan kehangatan kepada anaknya..
Orangtua yang
bergaya authoritarian selalu berusaha mengarahkan, menentukan, dan menilai
tingkah laku dan sikap anaknya sesuai dengan standar peraturan yang
ditetapkannya sendiri. Standar dimaksud biasanya didasarkan pada standar yang
absolut seperti nilai-nilai ajaran dan norma-norma agama, sehingga menutup
kemungkinan bagi anaknya untuk dapat membantah orangtuanya. Gaya pengasuhan
orangtua yang demikian sangat berpotensi menimbulkan konflik dan perlawanan
seorang anak, terutama saat anak sudah menginjak masa remaja, atau sebaliknya
akan menimbulkan sikap ketergantungan seorang remaja terhadap orangtuanya
(Rice, 1996), anak remaja akan kehilangan aktivitas kreatifnya, dan akan tumbuh
menjadi anak yang tidak efektif dalam kehidupan dan interaksinya dengan
lingkungan sosial (Santrock, 1985), remaja cenderung akan mengucilkan dirinya,
kurang berani dalam menghadapi tantangan tugas dan tidak merasa bahagia
(Baumrind, 1967).
Seorang remaja
yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga atau orangtua authoritarian cenderung
menunjukkan sikap yang patuh dan akan menyesuaikan dirinya pada standar-standar
tingkah laku yang sudah ditetapkan oleh orangtuanya, namun di balik itu
sesungguhnya mereka merasa menderita dengan kehilangan rasa percaya diri dan
pada umumnya lebih tertekan dan lebih menderita secara somatis dibandingkan
kelompok teman sebayanya. Sikap-sikap remaja yang demikian akhirnya akan
menyebabkan remaja cenderung untuk selalu tergantung pada orangtuanya,
cenderung kurang mampu mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, serta
cenderung tidak mampu untuk bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya
disebabkan semuanya disandarkan pada aturan dan kehendak orangtuanya. Semua itu
menunjukkan bahwa seorang remaja yang berada dalam asuhan orangtua yang
authoritarian akan tumbuh menjadi anak yang tidak mandiri dalam hidupnya kelak.
2. Authoritative
Bentuk
perlakuan orangtua saat berinteraksi dengan anaknya dengan cara melibatkan anak
(dalam hal ini anak usia remaja) dalam mengambil keputusan yang berkaitan
dengan keluarga dan diri anaknya merupakan gaya pengasuhan authoritative.
Orangtua yang authoritative bersikap terbuka, fleksibel dan memberikan
kesempatan kepada anaknya untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan peraturan
yang rasional, orangtua demikian mempunyai hubungan yang dekat dengan
anak-anaknya, dan selalu mendorong anaknya untuk ikut terlibat dalam membuat
peraturan dan melaksanakan peraturan dengan penuh kesadaran.
Orangtua yang
bergaya authoritative bertingkah laku hangat tetapi tetap tegas. Mereka
menerapkan seperangkat standar untuk mengatur anak-anaknya, tetapi sekaligus
berusaha membangun harapan-harapan yang disesuaikan dengan pertumbuhan dan
perkembangan, serta kemampuan dan kebutuhan anak-anaknya. Mereka juga
menunjukkan kasih sayang, mau mendengarkan dengan sabar pandangan anak-anaknya,
dan mendukung keterlibatan anaknya dalam membuat keputusan di dalam keluarga.
Kebiasaan-kebiasaan demokrasi, saling menghargai dan menghormati hak-hak
orangtua dan anak-anak ditanamkan dalam keluarga yang authoritative.
Dalam keluarga
yang authoritative, keputusan-keputusan yang penting akan diputuskan secara
bersama-sama walaupun keputusan akhir seringkali berada di tangan orangtua.
Anak-anak diberikan kesempatan untuk memberikan alasan mengapa mereka ingin
memutuskan atau akan melakukan sesuatu. Apabila alasan-alasan itu masuk akal
dan dapat diterima maka orangtua yang authoritative akan memberikan dukungan,
tetapi jika tidak maka orangtua akan menjelaskan alasan-alasannya mengapa dia
tidak merestui keputusan anaknya tersebut. Pola interaksi yang demikian akan memberikan
kesempatan kepada kedua belah pihak untuk memahami pandangan orang lain yang
pada akhirnya dapat mengantar pada suatu keputusan yang dapat diterima oleh
kedua belah pihak.
Orangtua yang
authoritative selalu berusaha menanamkan nilai-nilai kemandirian dan
pengendalian diri yang tinggi pada anak-anaknya, sekaligus tetap bertanggung
jawab penuh terhadap tingkah laku anak-anaknya. Kebiasaan yang rasional,
berorientasi pada masalah, terlibat dalam perbincangan dan penjelasan dengan
anak-anak, dan memegang teguh tingkah laku yang disiplin selalu ditanamkan oleh
orangtua yang authoritative. Dalam mengatur hubungan diantara anggota
keluarganya, orangtua yang authoritative akan menggunakan otoritasnya namun
mengekspresikannya melalui bimbingan yang disertai dengan pengertian dan cinta
kasih. Anak-anaknya akan didorong untuk dapat melepaskan diri (self-detach)
secara berangsur-angsur dari ketergantungan terhadap keluarga (Steinberg, 1993,
Rice, 1996, Thornburg, 1982).
Santrock (1985)
berpendapat bahwa kualitas pola interaksi dan gaya pengasuhan orangtua yang
authoritative akan memunculkan keberanian, motivasi dan kemandirian
anak-anaknya dalam menghadapi masa depannya. Gaya pengasuhan seperti ini dapat
mendorong tumbuhnya kemampuan sosial, meningkatkan rasa percaya diri, dan
tanggungjawab sosial pada anak remaja.
Para remaja
yang hidup dalam keluarga yang authoritative akan menjalani kehidupannya dengan
rasa penuh semangat dan bahagia, percaya diri, dan memiliki pengendalian diri
dalam mengelola emosinya sehingga tidak akan bertindak anarkis (Baumrind,
1967). Mereka juga akan memiliki kemandirian yang tinggi, mampu menjalin
persahabatan dan kerja sama yang baik, memiliki kematangan sosial dalam
berinteraksi dengan keluarga dan lingkungannya.
3. Permissive
Pola-pola
perlakuan orangtua saat berinteraksi dengan anaknya dengan memberikan
kelonggaran atau kebebasan kepada anaknya tanpa kontrol atau pengawasan yang
ketat merupakan bentuk atau gaya pengasuhan yang permissive.
Orangtua yang
permissive akan memberikan kebebasan penuh kepada anak-anaknya untuk bertindak
sesuai dengan keinginan anaknya. Sekiranya orangtua membuat sebuah peraturan
tertentu namun anak-anaknya tidak menyetujui atau tidak mematuhinya, maka
orangtua yang permissive cenderung akan bersikap mengalah dan akan mengikuti
kemauan anak-anaknya.
Ketika
anak-anaknya melanggar suatu peraturan di dalam keluarga, orangtua yang
permissive jarang menghukum anak-anaknya, bahkan cenderung berusaha untuk
mencari pembenaran terhadap tingkah laku anaknya yang melanggar suatu peraturan
tersebut. Orangtua yang seperti demikian umumnya membiarkan anaknya (terutama
anak remajanya) untuk menentukan tingkah lakunya sendiri, mereka tidak
menggunakan kekuasaan atau wewenangnya sebagai orangtua dengan tegas saat
mengasuh dan membesarkan anak remajanya (Baumrind, 1967).
Sedikit, atau
bahkan tanpa menggunakan kontrol terhadap anak remajanya, lemah dalam cara-cara
mendisiplinkan anak remajanya merupakan ciri dari gaya pengasuhan dari orangtua
yang permissive. Gaya pengasuhan demikian dipilih oleh orangtua yang permissive
karena mereka menganggap bahwa remaja harus memiliki kebebasannya sendiri
secara luas, bukan harus dikontrol oleh orang dewasa (Baumrind, 1967). Orangtua
yang permissive bersikap lunak, lemah dan pasif dalam persoalan disiplin.
Mereka cenderng tidak menempatkan tuntutan-tuntutan pada tingkah laku anak
remajanya, memberikan kebebasan yang lebih tinggi untuk bertindak sesuai dengan
kehendak anak remajanya sendirinya. Kontrol atau pengendalian yang ketat
terhadap remaja menurut pandangan orangtua yang permissive adalah sebuah
pelanggaran terhadap kebebasan yang dapat menganggu perkembangan seorang remaja
(Steinberg, 1993)
Menurut
Baumrind (1971), remaja yang berada dalam pengasuhan orangtua yang permissive
sangat tidak matang dalam berbagai aspek psikososial. Mereka sulit
mengendalikan desakan hati (impulsive), tidak patuh, dan menentang apabila
diminta untuk mengerjakan sesuatu yang bertentangan dengan keinginan-keinginan
sesaatnya. Mereka juga terlalu menuntut, sangat tergantung pada orang lain,
kurang gigih dalam mengerjakan tugas-tugas, tidak tekun dalam belajar di
sekolah. Tingkah laku sosial remaja ini kurang matang, kadang-kadang
menunjukkan tingkah laku agresif, pengendalian dirinya amat jelek, dan tidak
mampu mengarahkan diri dan tidak bertanggung jawab (Santrock, 1985).
Meskipun di
satu sisi gaya pengasuhan yang permissive dapat memberikan remaja kebebasan
bertingkah laku, namun di sisi lain tidak selalu dapat meningkatkan tingkah
laku bertanggung jawab. Remaja yang mendapatkan kebebasan tanpa adanya
pembatasan yang jelas cenderung bersifat suka menang sendiri dan mengutamakan
kepentingan dirinya sendiri. Kurangnya bimbingan dan pengarahan dari orangtua
menyebabkan mereka merasa tidak aman, tidak punya orientasi, dan penuh
keraguan. Jika remaja menafsirkan bahwa kelonggaran pengawasan dari orangtua
mereka sebagai bentuk dari tidak adanya perhatian atau penolakan terhadap diri
mereka, maka mereka akan menyalahkan orangtuanya sebab dipandang telah lalai
memperingatkan dan menuntun mereka (Rice, 1996).
4. Uninvolved/neglectful
Gaya pengasuhan
uninvolved/neglectful adalah gaya pengasuhan dimana orang tua tidak mau
terlibat dan tidak mau pula pusing-pusing dengan kehidupan anaknya. Gaya
pengasuhan orangtua yang uninvolved lebih berdampak buruk dibandingkan dengan
gaya pengasuhan yang permissive karena tidak adanya ikatan emosi ditambah
dengan penerapan batasan yang kabur. Orangtua yang demikian hanya fokus pada
penyediaan kebutuhan materi/fisik saja terhadap anak-anaknya, pemenuhan
kebutuhan immateri/psikis anaknya terabaikan atau bahkan sama sekali tidak
pernah diperhatikannya, padahal kebutuhan immateri/psikis seorang anak lebih
penting dari sekedar pemenuhan kebutuhan materi/fisik.
Anak dari
orangtua yang memiliki gaya pengasuhan uninvolved, ketika mereka tumbuh menjadi
remaja, biasanya sering mencari pelarian dari rasa kesepiannya dengan cara
mencari penerimaan dari orang lain. Akibatnya mereka seringkali terlibat dalam
masalah-masalah perilaku dibandingkan dengan anak yang memiliki orangtua dengan
gaya pengasuhan authoritative. Masalah perilaku tersebut misalnya perilaku seks
bebas, penggunaan obat-obatan terlarang, maupun berbagai bentuk kenakalan
remaja lainnya sebagai salah satu cara atau bentuk mereka dalam mencari penerimaan
dari orang lain. Secara emosi, remaja yang seperti ini mudah sekali mengalami
depresi dan sering merasa ditolak. Dalam banyak kejadian, mereka tumbuh dengan
perasaan ingin melawan, menentang, dan rasa marah yang bergejolak kepada
orangtuanya karena merasa telah diabaikan dan dikucilkan. Mereka akan mempunyai
harga diri yang rendah, tidak punya kontrol diri yang baik, kemampuan sosialnya
buruk, dan merasa bukan bagian yang penting untuk orang tuanya. Bukan tidak
mungkin serangkaian dampak buruk ini akan terbawa sampai ia dewasa. Tidak
tertutup kemungkinan pula anak akan melakukan hal yang sama terhadap anaknya
kelak. Akibatnya, masalah menyerupai lingkaran setan yang tidak pernah putus.
D. Penutup
Semua orangtua
tentu saja mengharapkan anaknya dapat tumbuh menjadi manusia yang cerdas,
bahagia, dan memiliki kepribadian yang baik. Namun harapan tersebut tidaklah
semudah membalikkan telapak tangan. Dituntut kesabaran, keuletan dan
kesungguhan dari para orangtua agar harapan tersebut dapat terwujud. Salah satu
yang perlu diperhatikan oleh orangtua adalah menerapkan gaya pengasuhan yang
tepat agar anaknya dapat berkembang menjadi manusia dewasa seperti yang
diharapkan.
Gaya pengasuhan
yang authoritative memang dikenal yang paling ideal, tetapi mungkin adakalanya
orangtua tak mampu menerapkan gaya pengasuhan seperti itu dengan sepenuhnya
terutama pada saat emosi orangtua sedang tidak stabil. Misalnya, ketika sedang
mengalami kondisi emosi yang tidak baik/negatif, orangtua cenderung bersikap
lebih otoriter terhadap anaknya. Atau misalnya ketika orangtua sedang merasa
senang karena usaha/bisnisnya berhasil, maka orangtua cenderung bersikap agak
permisif terhadap anaknya.
Kondisi ini,
menurut Mayke (http://www.tabloidnakita.com/Khasanah/ khasanah 06279 – 08.htm),
masih manusiawi karena memang emosi manusia cenderung naik turun. “Yang
penting, sikap orang tua masih dalam situasi terkontrol, maksudnya segera
menyadari dan kembali pada rambu-rambu yang telah ditetapkan,” tambahnya. Ada
kemungkinan dalam kondisi tertentu orang tua memang harus bersikap tegas bila
berhubungan dengan keselamatan jiwa anak atau orang lain. Misalnya ketika anak
ingin bermain kabel yang dialiri listrik. Bila hal ini didiamkan, tentu dapat
membahayakan jiwanya. Mau tidak mau orang tua harus bersikap otoriter, pada
saat kondisi demikian, katakan lah: “tidak” kepada si anak bahwa hal itu tidak
boleh dilakukannya.
Sehubungan
dengan gaya pengasuhan orangtua dalam rangka memandirikan para remaja, maka hal
yang terpenting diketahui oleh para orangtua bahwa seorang remaja lebih
membutuhkan dukungan dari sekedar pengasuhan, seorang remaja lebih membutuhkan
bimbingan dari sekedar perlindungan, seorang remaja lebih membutuhkan
pengarahan dari sekedar sosialisasi, dan seorang remaja dalam kehidupannya lebih
membutuhkan perhatian dan kasih sayang (kebutuhan psikis) daripada sekedar
pemenuhan kebutuhan fisik belaka.

0 komentar:
Posting Komentar